Kerangka Literasi Digital Indonesia

Title: Kerangka Literasi Digital Indonesia
Published by: ICT Watch
Release Date: 2017
Genre:
Pages: 46
ISBN13: 978-602-51324-2-1

Sebuah tawaran alternatif yang didesain berdasarkan pengalaman ICT Watch yang konsisten menjalankan tiga pilar, Internet Safety, Internet Rights dan Internet Governance. Lewat pemahaman bersama tentang tiga bagian kerangka literasi digital, yaitu proteksi, hak-hak, dan pemberdayaan, diharapkan muncul inisiatif swadaya multipihak untuk berkolaborasi mendukung upaya meningkatkan tingkat literasi digital di tanah air.

Strategi Kewirausahaan Digital

Title: Strategi Kewirausahaan Digital
Published by: CfDS UGM
Release Date: 2018
Genre:
Pages: 91

Di era digital, fenomena startup dan kewirausahaan digital muncul dan menjadi sorotan banyak pihak, termasuk di Indonesia. Perusahaan teknologi kian banyak yang menuai kesuksesan besar. Namun, tidak sedikit pula bisnis-bisnis berbasis teknologi digital yang mengalami kegagalan. Buku ini hadir sebagai alternatif yang dapat digunakan sebagai bekal awal untuk Anda yang tertarik untuk memulai bisnis berbasis digital.

Pengantar Tata Kelola Internet

Title: Pengantar Tata Kelola Internet Published by: ID IGF Release Date: 2018 Genre: Pages: 96
Siapa saja para pemain yang memiliki kekuatan untuk membentuk internet dan apa saja yang dipertaruhkan di masa mendatang? Anda akan diajak menelusuri lansekap digital dan memahami peran berbagai pemangku kepentingan—pemerintah, operator jaringan, dan para raksasa teknologi di balik layanan internet yang kita nikmati. Di lapisan konten, para pengguna juga memiliki kekuatan untuk membentuk internet disertai dengan berbagai bahaya baru.

Literasi Digital bagi Millenial Moms

Title: Literasi Digital for Millenial Moms Series:  Published by: Penerbit Samudra Biru Release Date: Februari 2019 Contributors: Indah Wenerda, M.A dan Intan Rawit Sapanti, M.A Genre:  Pages: 60 ISBN13: 978-623-7080-03-9
Millennials moms merupakan ibu-ibu yang lahir di era tahun 80an dan akhir 90an yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pesatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) termasuk internet. Untuk menyelesaikan masalah sehari-hari, para ibu milenial sangat bergantung pada informasi yang dihadirkan di internet dan media sosial. Permasalahan yang kemudian dihadapi para ibu milenial yaitu kebingungan dan ambiguitas informasi karena tidak terbatasnya informasi yang didapat dari media digital saat ini, sehingga  terkadang malah menimbulkan masalah baru. Dalam buku ini terdapat pemahaman mengenai kompetensi digital dan sepuluh tahapan pendekatan literasi digital bagi para ibu milenial supaya dapat semakin bijak dalam menyikapi informasi di era media digital.

Panduan Internet Untuk Orang Tua

Title: Panduan Internet Untuk Orang Tua
Published by: banyumurti.net
Release Date: 2018
Contributors: Indriyatno Banyumurti
Genre: 

Bagi generasi natif teknologi (digital native), yaitu milenial dengan generasi Z, rasanya mustahil dipisahkan dari teknologi. Mereka lahir dan besar di tengah gempuran kemajuan teknologi yang sedemikian pesat. Menjadi orang tua memang penuh tanggung jawab. Terlebih di zaman yang serba maju, di mana teknologi internet berangsur menjadi sebuah kebutuhan di dalam keluarga. Bagaimana membimbing anak yang makin lincah bergerak di dunia daring (online), tanpa harus terlihat seperti penjaga berbaju besi. Dengan mengetahui tantangan apa saja yang dihadapi orang tua serta langkah penanggulangannya, maka anak-anak diharapkan bisa tetap menikmati manfaat internet tanpa terseret ke sisi gelap jagat maya.

Literasi Digital Keluarga

Title: Literasi Digital Keluarga
Series: 
Published by: CfDS UGM
Release Date: 2017
Genre: 
Pages: 15

Internet telah menjadi kebutuhan primer hampir semua orang. Penggunanya pun tidak lagi terbatas pada remaja dan orang dewasa, tapi juga anak-anak. Dengan akses penyaringan informasi yang masih terbatas sedangkan jenis informasi dan konten di internet sangat beragam, penting bagi para orangtua untuk ambil bagian dalam usaha melindungi anak dari konsumsi informasi dan konten yang tidak sesuai usia anak. Buku ini menyajikan teori dan praktik yang cukup komprehensif yang dapat membantu para orangtua dalam mendampingi anak-anaknya berinternet.

Digital Parenting: Mendidik Anak di Era Digital

Title: Digital Parenting: Mendidik Anak di Era Digital
Series: 
Published by: Samudra Biru
Release Date: 2018
Genre: 

Era digital menawarkan beragam ancaman dan kesempatan maka penting bagi orang tua mengembangkan model pengasuhan yang bertujuan menghindarkan anak dari ancaman dan memaksimalkan potensi digital. Teknologi digital membawa beberapa perubahan penting dalam kehidupan manusia, maka orang tua perlu memahami bentuk-bentuk perubahan itu agar dapat memandu anaknya.

Pengasuhan digital menawarkan beberapa nilai dasar yang dapat diterapkan di dalam keluarga. Buku ini memberi panduan pada orang tua untuk mengasuh anak di era digital dan tips mendampingi anak menggunakan media digital berdasarkan nilai-nilai dasar keluarga.

Historia Media Sosial

Media sosial berbasis website mulai terbentuk di tahun 1995, dengan munculnya site Geocities. Situs yang menyimpan data-data, untuk diakses oleh banyak orang dengan internet. Dari sinilah terlahir inovasi dan pengembangan website. Situs Geocities merupakan tonggak lahirnya berjuta juta website lain di dunia online. Kini, layanannya hanya tersedia di Jepang. Yahoo! berlaku sebagai penyedia layanan tersebut.

Dunia sosial di ruang maya terus berkembang. Pada tahun 1997 sampai 1999 terciptalah media sosial komunitas pertama, dengan nama sixdegree dan classmates. Ruang lingkupnya masih terbatas, hanya untuk kalangan komunitas. Hingga pada tahun 2002 lahirlah friendster, dengan cakupan yang lebih luas. Sebagian dari kita pernah menggunakannya. Di Indonesia cukup populer, saat itu perkembangan internet juga makin pesat di tanah air.

Perkembangan teknologi informasi yang cepat, mendorong berbagai inovasi. Hingga muncul blog, media online untuk pengguna internet yang suka menulis dan berbagi. Kehadirannya dikesankan sebagai media catatan pribadi, sejenis diary. Kini, blog berubah menjadi ruang maya yang bersifat lebih luas. Sifatnya menjadi wajib, terutama dalam bidang pemasaran. Dikenal istilah landing page, untuk merujuk pada aktivitas pemasaran digital.

Fluktuasi Media Sosial

Semakin meningkatnya inovasi dan perkembangan teknologi, menggiring kita pada fenomena era digital. Berbagai media sosial lahir dan tumbuh subur. Media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup kekinian. Media sosial dengan berbagai bentuknya, telah lahir sebagai sarana yang dianggap mampu membantu warganet. Istilah warganet (netizen), merupakan sebuah sebutan bagi pengguna internet yang mengiringi pertumbuhan media sosial itu sendiri.

Waktu demi waktu, setelah friendster meredup muncul Facebook. Sebelumnya yang begitu gempar juga ada twitter, hingga kini masih dijadikan kanal untuk menyebarluaskan informasi bagi tokoh publik. Lebih kekinian lagi muncul instagram, yang begitu digandrungi kaum milenial. Fiturnya sangat sesuai untuk karakter generasi jaman now, yang cenderung narsis dan ingin cepat populer.

Selain brand ternama tadi sebetulnya masih banyak media sosial di dunia internet, contohnya myspace, linkedln, google+, pinterest, path, dan lain sebagainya. Hanya saja pengguna di Indonesia tidak terlalu besar, akibatnya tidak terlalu populer. Path pernah muncul sebagai jawaban atas kejenuhan pengguna facebook. Jumlah pertemanan di Path dibatasi, hanya yang mengenal dekat bisa berteman. Sayangnya sejak 2018, Path telah resmi ditutup.

Efek Bandwagon

Penutupan Path akibat kemerosotan jumlah pengguna yang disertai ekskalasi besar-besaran jumlah penggunaan di jaringan media sosial lain, seperti Snapchat atau pun Instagram, dapat dikatakan sebagai alternasi dari sebuah tren yang berkembang. Tak hanya Path, para pendahulunya seperti eBuddy juga mengalami hal serupa. Penyebabnya sama, yaitu kehilangan animo pengguna media sosial.

Fluktuasi tren dalam masyarakat tersebut dijuluki efek bandwagon. Efek bandwagon adalah suatu hal yang mengacu pada kecenderungan orang untuk mengadopsi perilaku, gaya, atau sikap tertentu hanya karena orang lain melakukannya. Maka tidak mengherankan apabila suatu tren tertentu bisa digandrungi oleh sedemikian banyak orang dalam waktu relatif singkat.

Pemanfaatan media sosial sebagai medium aktualisasi tren mengakibatkan munculnya perasaan dependensi terhadap orang lain agar mengakui dan mengapresiasi kita dalam suatu kelompok sosial. Selain itu efek bandwagon bisa disebabkan oleh ketakutan dikucilkan saat menjadi “berbeda” dari sebuah kelompok sosial. Ketika kita menampilkan perilaku yang ekstrim alias anti-mainstream dan orang lain yang tidak dapat menerimanya, maka kita merasa berbeda dan sendiri. Hal inilah yang membuat kita cenderung mengikuti tren.