Historia Media Sosial

Media sosial berbasis website mulai terbentuk di tahun 1995, dengan munculnya site Geocities. Situs yang menyimpan data-data, untuk diakses oleh banyak orang dengan internet. Dari sinilah terlahir inovasi dan pengembangan website. Situs Geocities merupakan tonggak lahirnya berjuta juta website lain di dunia online. Kini, layanannya hanya tersedia di Jepang. Yahoo! berlaku sebagai penyedia layanan tersebut.

Dunia sosial di ruang maya terus berkembang. Pada tahun 1997 sampai 1999 terciptalah media sosial komunitas pertama, dengan nama sixdegree dan classmates. Ruang lingkupnya masih terbatas, hanya untuk kalangan komunitas. Hingga pada tahun 2002 lahirlah friendster, dengan cakupan yang lebih luas. Sebagian dari kita pernah menggunakannya. Di Indonesia cukup populer, saat itu perkembangan internet juga makin pesat di tanah air.

Perkembangan teknologi informasi yang cepat, mendorong berbagai inovasi. Hingga muncul blog, media online untuk pengguna internet yang suka menulis dan berbagi. Kehadirannya dikesankan sebagai media catatan pribadi, sejenis diary. Kini, blog berubah menjadi ruang maya yang bersifat lebih luas. Sifatnya menjadi wajib, terutama dalam bidang pemasaran. Dikenal istilah landing page, untuk merujuk pada aktivitas pemasaran digital.

Fluktuasi Media Sosial

Semakin meningkatnya inovasi dan perkembangan teknologi, menggiring kita pada fenomena era digital. Berbagai media sosial lahir dan tumbuh subur. Media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup kekinian. Media sosial dengan berbagai bentuknya, telah lahir sebagai sarana yang dianggap mampu membantu warganet. Istilah warganet (netizen), merupakan sebuah sebutan bagi pengguna internet yang mengiringi pertumbuhan media sosial itu sendiri.

Waktu demi waktu, setelah friendster meredup muncul Facebook. Sebelumnya yang begitu gempar juga ada twitter, hingga kini masih dijadikan kanal untuk menyebarluaskan informasi bagi tokoh publik. Lebih kekinian lagi muncul instagram, yang begitu digandrungi kaum milenial. Fiturnya sangat sesuai untuk karakter generasi jaman now, yang cenderung narsis dan ingin cepat populer.

Selain brand ternama tadi sebetulnya masih banyak media sosial di dunia internet, contohnya myspace, linkedln, google+, pinterest, path, dan lain sebagainya. Hanya saja pengguna di Indonesia tidak terlalu besar, akibatnya tidak terlalu populer. Path pernah muncul sebagai jawaban atas kejenuhan pengguna facebook. Jumlah pertemanan di Path dibatasi, hanya yang mengenal dekat bisa berteman. Sayangnya sejak 2018, Path telah resmi ditutup.

Efek Bandwagon

Penutupan Path akibat kemerosotan jumlah pengguna yang disertai ekskalasi besar-besaran jumlah penggunaan di jaringan media sosial lain, seperti Snapchat atau pun Instagram, dapat dikatakan sebagai alternasi dari sebuah tren yang berkembang. Tak hanya Path, para pendahulunya seperti eBuddy juga mengalami hal serupa. Penyebabnya sama, yaitu kehilangan animo pengguna media sosial.

Fluktuasi tren dalam masyarakat tersebut dijuluki efek bandwagon. Efek bandwagon adalah suatu hal yang mengacu pada kecenderungan orang untuk mengadopsi perilaku, gaya, atau sikap tertentu hanya karena orang lain melakukannya. Maka tidak mengherankan apabila suatu tren tertentu bisa digandrungi oleh sedemikian banyak orang dalam waktu relatif singkat.

Pemanfaatan media sosial sebagai medium aktualisasi tren mengakibatkan munculnya perasaan dependensi terhadap orang lain agar mengakui dan mengapresiasi kita dalam suatu kelompok sosial. Selain itu efek bandwagon bisa disebabkan oleh ketakutan dikucilkan saat menjadi “berbeda” dari sebuah kelompok sosial. Ketika kita menampilkan perilaku yang ekstrim alias anti-mainstream dan orang lain yang tidak dapat menerimanya, maka kita merasa berbeda dan sendiri. Hal inilah yang membuat kita cenderung mengikuti tren.